Menjadi Hud-hud di Negeri Seperti Saba’

Rangkuman tausiyah Ust. Salim A. Fillah

QS An-Naml: 18
“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”;

Perkataan semut (dalam kisah Nabi Sulaiman) yang diabadikan di dalam Al Quran, sebagai tanda penghargaan Allah atas kepeduliannya terhadap sesama.

Rosulullah bersabda, hancurnya bumi lebih ringan di sisi Allah dibandingkan tumpahnya darah seorang Muslim.

Semut apabila mati, maka selesailah urusannya. Sedangkan manusia, mati justru lebih berat daripada hidup (sakitnya sakaratul maut, adzab kubur, penghisaban amal).

Perkataan semut untuk menyelamatkan nyawa sesamanya saja diberikan penghargaan dengan diabadikan di dalam Al quran. Apalagi, menyelamatkan sesama manusia yang juga berarti menyelamatkan dunia dan akhiratnya.

Negeri Saba’ negeri yang makmur. Ratunya suka bermusyawarah dan adil. Kehidupan penduduknya teratur, menghargai waktu, bersih. Tapi sayangnya mereka masih menyembah matahari.

Burung Hud-hud yang tidak mengerti bahasa manusia, menyampaikan keadaan Negeri Saba kepada Nabi Sulaiman.

Nabi Sulaiman kemudian mengirimkan surat ajakan untuk mentauhidkan Allah kepada Ratu Balqis (kepala suratnya bertuliskan ‘Bismillahirrohmanirrohim’, dikatakan surat Nabi Sulaiman tersebut adalah surat kenegaraan pertama yang kepala suratnya bertuliskan lafadz basmalah)

Kalau masih belum bisa berdakwah seperti Nabi Sulaiman, setidaknya menjadi Burung Hud-hud.

Keadaan Jepang bisa dikatakan mirip dengan Negeri Saba. Negeri yg makmur dan rakyat yang teratur, tetapi masih belum mentauhidkan Allah. (Dalam bahasa arab pun ada kemiripan, Negeri saba= Yaman, Jepang= Yaban)

Jangan merasa inferior menjadi orang Indonesia, karena orang Indonesia jg mempunyai nilai budaya yg sangat bagus dan juga sudah diakui dunia. Contohnya saat bencana tsunami di Aceh, Tamu asing yg menjadi donatur bencana dibuat bingung oleh orang Indonesia yg meskipun sedang ditimpa bencana, masih bisa tersenyum dan berpakaian yg baik, menyediakan hidangan saat menyambut Tamu asing tsb.

Menjadi orang Indonesia yg ramah senyum di tengah2 orang Tokyo yg katanya jarang senyum, Membagikan makanan khas Indonesia kepada orang jepang di sekitar, misalnya bisa dijadikan cara untuk memulai dakwah kepada orang Jepang.
Salah satu cara agar dapat Istiqomah dalam bertaqwa kepada Allah Swt adalah dengan cara terus merasa diri ini kurang, diri ini lemah, diri ini hina di hadapan Allah swt, dan selalu rendah hati, merasa butuh kepada Allah swt, seperti hal nya kita kalau sedang butuh maka akan terus-terasan memohon kepada Allah swt.

Hal ini sudah di contohkan oleh Nabi Adam, Nuh dan Yusuf as. Salah satu nya, Doa Nabi Adam “ Robbana dholamna anfusana waillam tagfirlana watarhamana lanakunanna minal khosirin “

Ya Allah , kami telah mendholimi pada diri kami sendiri, jika tidak engkau ampuni kami dan merahmati kami tentulah kami menjadi orang yang rugi.

Doa Nabi Nuh “Robbi inni audzubika an as alaka maa laisalli bihi ilmun wa illam tagfirli watarhamni akum minal khosirin “ (QS. Hud; 47)

Ya Tuhanku sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari sesuatu yang aku tidak mengetahui hakekatnya, dan sekiranya tidak Engkau ampuni dan belas kasih niscaya aku termasuk orang – orang yang merugi.

Doa Nabi Yusuf “ Fatiros samawati wal ardli anta fiddunya wal akhiro tawwaffani musliman wa al hiqni bissholihin “ (QS. Yusuf ; 101)

Wahai pencipta langit dan bumi Engkaulah pelindungku di dunia dan akhirat wafatkanlah aku dalam keadaan pasrah (islam), dan masukkanlah aku dengan orang – orang sholeh.

Sebaliknya jangan merasa diri sudah bisa, sudah hebat, sudah mulia. karena perasaan merasa hebat hanya di contohkan oleh Iblis dan syaitan. seperti contoh perkataan iblis yang merasa lebih hebat dari Adam.